SERANG – Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik dan pembangunan di Tanah Banten, ada momen jeda yang mengharukan saat sosok Dimyati Natakusumah membagikan refleksi pribadinya.
Memperingati Hari Ibu ke-97, tokoh masyarakat Banten ini menyampaikan pesan yang mendalam tentang peran sentral seorang ibu di balik setiap kesuksesan seorang anak.
Bagi Dimyati, pencapaian yang ia raih saat ini bukanlah semata hasil kerja keras pribadi, melainkan buah dari “ketukan pintu langit” yang dilakukan tanpa henti oleh ibundanya.

Keridhoan yang Menjadi Kompas Kehidupan
Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Dimyati mengungkapkan bahwa kasih sayang ibu adalah fondasi yang tak tergantikan. Ia menekankan bahwa tanpa restu dan kasih sayang yang tulus, mustahil bagi seseorang untuk sampai pada titik keberhasilan.
“Di balik setiap langkah dan pencapaian saya, ada doa tulus dari seorang Ibu yang senantiasa mengetuk pintu langit. Tanpa ridho dan kasih sayangnya, mustahil kita bisa sampai di titik ini,” tulisnya dengan penuh takzim.
Pesan ini menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa setinggi apa pun jabatan atau posisi seseorang, mereka tetaplah seorang anak yang berutang budi pada ketulusan sang ibu.
Apresiasi untuk Ibu-Ibu Hebat di Banten
Tidak hanya bicara tentang pengalaman pribadi, Dimyati juga memberikan penghormatan khusus bagi seluruh ibu di Indonesia, terutama yang berada di wilayah Provinsi Banten. Ia menggambarkan sosok ibu sebagai pahlawan dengan:
– Pengabdian tanpa batas yang melampaui ego pribadi. Kesabaran seluas samudera dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan keluarga. Kasih sayang tak lekang oleh waktu yang menjadi pelita bagi anak-anaknya.
Harapan dan Doa
Menutup pesannya, Dimyati mendoakan agar para ibu senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan. Ucapan selamat ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bentuk pengakuan atas peran vital perempuan dalam membangun karakter bangsa dari lingkup terkecil, yaitu keluarga.
Momen ini memperlihatkan sisi humanis dari seorang tokoh publik yang menyadari bahwa di balik narasi-narasi besar pembangunan daerah, ada kekuatan doa dan kelembutan hati seorang ibu yang menjadi motor penggerak yang sebenarnya.














