TANGERANG – Di balik deretan gedung dan hamparan taman yang menghiasi Kota Tangerang, ada denyut nadi kehidupan warga yang bergantung padanya. Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, aset daerah bukanlah sekadar catatan di atas kertas atau barisan angka dalam laporan keuangan. Ia adalah warisan publik yang harus dijaga agar setiap lapisan masyarakat bisa menikmatinya dengan rasa aman dan nyaman.
Lebih dari sekadar administrasi
Menyambut HUT Kota Tangerang, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD), Agus Andriansjah, SE, MM., menekankan bahwa mengelola aset adalah cara pemerintah menjaga “rumah besar” bagi warganya. Langkah mempertegas transparansi ini bukan sekadar mengejar ketertiban hukum, melainkan janji bahwa setiap jengkal tanah milik daerah akan kembali fungsinya untuk kepentingan rakyat.

“Aset itu wujud fisik dari kasih sayang pemerintah kepada warga. Ada taman tempat anak bermain, gedung sekolah tempat mimpi dirajut, hingga pusat kesehatan. Ketika transparansi ditegakkan, warga akan merasa lebih tenang karena tahu ruang publik mereka terlindungi,” ujar Agus Andriansjah, Sabtu (28/2/2026).
Jembatan Kepercayaan dan Kasih Sayang
Bagi Pemkot Tangerang, keterbukaan informasi adalah jembatan kepercayaan. Setiap rupiah pajak warga yang kini menjelma menjadi fasilitas umum harus dipertanggungjawabkan secara moral.
Upaya digitalisasi data dan percepatan sertifikasi yang tengah dilakukan bukan hanya demi mengejar opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian), tetapi demi masa depan.
Pemkot ingin memastikan bahwa anak cucu warga Tangerang di masa depan masih memiliki lahan untuk membangun ruang kreatif, sekolah, dan tempat berinteraksi tanpa harus kehilangan identitas kotanya.
Membangun budaya handarbeni (Rasa Memiliki). Melalui komitmen ini, Pemkot Tangerang juga mengajak masyarakat untuk menumbuhkan rasa handarbenisebuah kearifan lokal untuk ikut menjaga dan memiliki. Aset yang dikelola secara transparan akan lebih mudah diawasi bersama, menciptakan hubungan yang harmonis antara pengelola dan pengguna.
“Kalau pengelolaannya jelas, kami sebagai warga juga semangat ikut menjaga. Kami ingin memastikan tidak ada sejengkal pun lahan publik yang hilang, karena itu adalah tempat kami bersosialisasi dan mencari nafkah,” ungkap salah satu warga dengan penuh harap.
Komitmen yang mengakar. Tantangan ke depan adalah konsistensi. Pemkot Tangerang sadar bahwa kepercayaan masyarakat tidak dibangun dalam semalam. Maka, komitmen transparansi ini harus terus dirawat bukan hanya untuk meredam isu, tetapi untuk memastikan bahwa setiap sudut kota ini tetap menjadi milik bersama. Sebab pada akhirnya, kota yang hebat bukanlah kota yang hanya memiliki gedung pencakar langit, melainkan kota yang dikelola dengan hati untuk sebesar-besarnya kesejahteraan manusia di dalamnya. (ADV)














