BROMO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerjang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian mengkhawatirkan. Hingga hari ini, total luas area terdampak kobaran api dilaporkan telah membengkak hingga mencapai 520 hektare.
Guna menekan laju penyebaran api yang terus meluas akibat tiupan angin kencang dan kondisi vegetasi yang mengering di musim kemarau, upaya pemadaman kini mengandalkan helikopter pemadam atau water bombing, (11/8/26).

Kendala nedan dan angin kencang. Upaya pemadaman darat yang melibatkan personel gabungan dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, serta relawan masyarakat setempat mengalami hambatan besar. Topografi kawasan Bromo yang berbukit terjal serta jurang yang curam menyulitkan akses penanganan langsung di titik-titik kobar utama.
“Pemadaman lewat jalur darat sangat berisiko bagi keselamatan personel di titik-titik kritis. Oleh karena itu, strategi penanganan difokuskan melalui operasi pemadaman udara (water bombing) untuk menjangkau area tebing dan lembah yang tak tersentuh,” ujar salah satu petugas lapangan di lokasi.
Ancaman ekosistem dan sektor pariwisata. Kebakaran yang meluas ini tidak hanya menghanguskan ratusan hektare sabana dan vegetasi khas Bromo, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati kawasan konservasi tersebut.
Selain dampak ekologis, kepulan asap tebal yang menyelimuti kawasan sekitar berpotensi mengganggu aktivitas warga serta operasional pariwisata Bromo secara keseluruhan. Otoritas setempat terus mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mensterilkan zona bahaya serta mematuhi pembatasan akses yang telah ditetapkan demi memperlancar proses operasi pemadaman dari udara maupun darat. (*)














