JAKARTA — Kebijakan moneter Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tantangan ketat. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) yang saat ini tertahan di level 5,75% dinilai masih memiliki potensi untuk bergerak naik demi merespons dinamika perekonomian global dan domestik.
Sinyal tersebut mengemuka seiring tingginya ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu era kondisi “Higher for Longer”, yaitu tren di mana tingkat suku bunga tinggi diprediksi bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Pertimbangan multidimensi kebijakan moneter. Langkah penetapan arah suku bunga acuan ke depan tidak hanya bertumpu pada indikator inflasi semata, melainkan juga memperhitungkan kalkulasi strategis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta stabilitas nilai tukar Rupiah.
Dinamika pasar global pengaruhi ketegangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral negara maju terus menekan arus modal di negara berkembang. Menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan bisnis menjadi benteng vital di tengah ancaman transmisi risiko luar negeri.
Skenario ‘Higher for Longer’, penyesuaian ke depan disiapkan untuk mengantisipasi potensi gejolak moneter agar efektivitas transmisi kebijakan tetap terjaga dampak bagi sektor riil dan perbankan, Kamis 9 September 2026..
Potensi kenaikan BI-Rate ini menjadi alarm bagi para pelaku usaha dan sektor perbankan. Jika kenaikan benar-benar direalisasikan, biaya pinjaman (cost of fund) diperkirakan merambat naik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi laju penyaluran kredit masyarakat maupun ekspansi dunia usaha.
Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat bauran kebijakan (policy mix) guna memastikan stabilitas sektor keuangan tetap tangguh di tengah himpitan tekanan ekonomi global. (*)














