SELAT SUNDA — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Berdasarkan data pemantauan, erupsi melanda kawasan Selat Sunda pada Minggu (6/9/2026) malam, tepatnya pukul 20:23 WIB.
Letupan magmatis bertekanan tinggi ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 58 mm dan durasi getaran beruntun selama kurun waktu 44 detik.

Ancaman bahaya tak terlihat (Unseen Hazard). Erupsi yang terjadi pada malam hari memicu kewaspadaan ekstra. Ketinggian kolom abu vulkanik serta arah sebaran material Gunung Anak Krakatau tidak dapat teramati secara visual akibat terbatasnya jarak pandang malam hari (unseen hazard).
Kondisi ini dinilai berpotensi membahayakan kawasan pesisir hingga jalur pelayaran di Selat Sunda. Merespons potensi bahaya tersebut, otoritas terkait mendesak para nelayan, pengelola moda transportasi laut, serta masyarakat pesisir untuk mengambil langkah mengantisipasi ancaman erupsi.
Seluruh armada kapal dan aktivitas nelayan diimbau ketat untuk menjauhi radius bahaya yang telah ditetapkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Warga di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta menaikkan kewaspadaan ke taraf Siaga Dua. Masing-masing keluarga disarankan menyiapkan emergency kit (tas siaga bencana) yang berisi dokumen penting serta kebutuhan dasar guna mengantisipasi kemungkinan evakuasi cepat.
Hingga saat ini, pemantauan ketat melalui instrumen kebencanaan terus dilakukan guna mengantisipasi eskalasi susulan dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. (*)














