
Kampar, RIAU- Jeritan itu merobek keheningan subuh. Bukan jeritan biasa, melainkan jeritan kesakitan yang memilukan, memantul di dinding kayu kantor usang, diiringi suara tetesan darah yang jatuh ke lantai. Di dalam kegelapan itu, sebuah tragedi berdarah sedang terjadi.

Suryiono, Ketua Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI), yang sedang terlelap, tiba-tiba terbangun oleh kehadiran sosok bayangan. Seketika, rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah sabetan tajam menghantam paha belakangnya, memutus otot dan urat saraf, membuat darah muncrat deras membasahi kasur dan lantai.
Suryiono berusaha merangkak, berteriak meminta tolong. Rekannya, Rendi Marbun, yang terbangun oleh suara mengerikan itu, menemukan Suryiono bersimbah darah, tergeletak tak berdaya di genangan merah pekat.
Tatapan mata Suryiono kosong, menatap langit-langit seolah melihat bayangan kematian yang mendekat. Dalam kondisi sekarat, ia dibawa ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong. Pendarahan hebat telah merenggutnya.
Meskipun polisi masih mendalami kasus ini, aroma konflik sudah tercium. Isu-isu tentang perebutan kekuasaan dan persaingan bisnis yang kotor di dunia bongkar muat pupuk santer terdengar. Siapa dalang di balik serangan brutal ini?
Apakah ini hanya perseteruan bisnis yang berujung maut, atau ada rahasia kelam lain yang belum terungkap?. Jenazah Suryiono kini telah kembali ke pangkuan keluarganya, namun bayangan mengerikan dari malam berdarah itu masih menghantui Tapung Hulu. Sebuah pesan kejam telah disampaikan: di dunia ini, bisnis bisa dibayar dengan darah. [Red]














