Menu ✖

Dark Mode
Tangis Haru Nadiem Makarim di Sidang Pleidoi Kasus Chromebook, Pilih Pakai Jaket Gojek ketimbang Rompi Tahanan

Headline

Misteri Rp164,9 Miliar: Jejak Janggal Pembayaran Lahan Puspemkab Tangerang

badge-check


					Misteri Rp164,9 Miliar: Jejak Janggal Pembayaran Lahan Puspemkab Tangerang Perbesar

TANGERANG – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Banten kini tengah membidik potensi kerugian negara di balik transaksi pengadaan lahan non-PSU (Prasarana, Sarana, dan Utilitas) di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten (Puspemkab) Tangerang. Audit terbaru mengungkap adanya “lubang” dalam proses pembayaran lahan seluas 9,9 hektare milik eks PT PWS yang menelan anggaran fantastis mencapai Rp164,9 miliar.

Audit BPK: Parameter “Gelap” dalam Pembayaran. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Nomor: 13.A/LHP/XVIII.SRG/05/2025, BPK menemukan bahwa skema pembayaran yang dicicil lima kali melalui APBD Tahun Anggaran 2022–2024 tersebut tidak memiliki parameter penilaian yang valid.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengamat kebijakan publik: Bagaimana mungkin uang rakyat dalam jumlah ratusan miliar digelontorkan tanpa indikator harga dan prosedur penilaian yang jelas?

Penyimpangan Administratif atau Korupsi? Kepala Sub Bagian Hukum BPK Banten, Sandi Prasetya, menegaskan bahwa instansinya tidak tinggal diam. Saat ini, tim internal BPK sedang melakukan bedah kasus untuk menentukan arah tindak lanjut dari temuan ini.

“Kami akan analisis dulu, apakah temuan itu bersifat administratif ataukah terdapat unsur tindak pidana korupsi,” ujar Sandi sebelumnya dalam sebuah keterangan Pers.

Poin-poin yang menjadi sorotan Investigasi, status lahan eks PT PWS. Mengapa lahan yang seharusnya masuk dalam kategori non-PSU ini memiliki urgensi tinggi untuk dibayar dengan skema cicilan panjang?

Dokumen yang “Menghilang”. BPK secara khusus telah meminta Pemkab Tangerang menyerahkan dokumen vital, termasuk. Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Tigaraksa. Gambar teknis dan peta lokasi objek tanah.

Bukti verifikasi lanjutan yang hingga kini masih dalam tahap penelaahan. Ketiadaan parameter penilaian yang valid membuka celah adanya penggelembungan harga (mark-up) yang bisa merugikan kas daerah.

Menanti Transparansi Pemkab, hingga berita ini diturunkan, publik menanti keberanian Pemkab Tangerang untuk membuka data seluas-luasnya terkait pengadaan lahan ini. Jika dokumen pendukung yang diminta BPK tidak segera dipenuhi atau ditemukan ketidaksesuaian fatal, kasus ini berpotensi besar naik ke meja hijau sebagai kasus dugaan korupsi pengadaan lahan.

Kasus ini menjadi ujian bagi kredibilitas pengawasan internal Pemkab Tangerang dan ketegasan BPK Banten dalam mengawal uang negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

HEADLINE: Anggaran Hampir Rp4 Miliar Terbuang Sia-Sia? Proyek Jalan Balaraja-Ceplak Diduga Asal Jadi dan Rentan Korupsi

25 September 2026 - 11:36 WIB

Kadishub Kota Tangerang Bungkam, Dugaan Proyek Halte Fiktif Berlanjut ke Kejati Banten

23 September 2026 - 19:10 WIB

Tangki Galon dan Dugaan Setoran 8 Juta: Bobroknya Tata Kelola Armada Sampah DLHK Kabupaten Tangerang

23 September 2026 - 11:57 WIB

KPK Gelar OTT di Bolaang Mongondow Utara, Bupati Sirajudin Lasena Turut Diamankan di Jakarta

22 September 2026 - 12:24 WIB

Pemenang Lelang Wilayah Kerja Migas 2026: Keuntungan Strategis atau Konflik Kepentingan?

19 September 2026 - 08:18 WIB

Trending on Headline