Menu ✖

Dark Mode
Tangis Haru Nadiem Makarim di Sidang Pleidoi Kasus Chromebook, Pilih Pakai Jaket Gojek ketimbang Rompi Tahanan

Hukum

Operasi Senyap Satgas Pangan: Jebakan Beras Oplosan Bernilai Ratusan Triliun Terbongkar

badge-check

JAKARTA – Sebuah skandal yang mengguncang sendi-sendi ekonomi rakyat terungkap. Satgas Pangan Polri, dalam operasi senyapnya, berhasil membongkar praktik kejahatan beras oplosan yang diduga merugikan masyarakat hingga hampir Rp 100 triliun. Kejahatan ini tak main-main, melibatkan sejumlah pimpinan perusahaan beras ternama yang kini meringkuk di balik jeruji besi.

Kemarahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mencerminkan betapa seriusnya kasus ini. “Bukti sudah ada, tinggal diproses. Penegakan hukum harus secepatnya,” tegasnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak berkompromi dengan para penjahat pangan.

Brigjen Pol Heldi Assegaf, Dirtiideks Bareskrim sekaligus Ketua Satgas Pangan, membeberkan secara gamblang siapa saja yang terjerat dalam kasus ini. Tiga tersangka utama adalah KG (Direktur Utama PT Food Station), RL (Direktur Operasional PT Food Station), dan FP (Kepala Kendali Mutu PT Food Station).

Modus operandi mereka sungguh licik: menjual beras dengan label “premium” padahal kualitasnya jauh di bawah standar. Tak berhenti di situ, penyelidikan mendalam Satgas Pangan menembus lapisan-lapisan kejahatan lainnya.

Tiga tersangka baru, S (Presiden Direktur PT Padi Indonesia Maju), AI (Kepala Pabrik), dan DO (Kepala Kendali Mutu), juga ditetapkan. Perusahaan mereka, yang sebelumnya bernama PT Wilmar Padi Indonesia, adalah produsen dari merek-merek beras yang familiar di telinga masyarakat: Sania, Fortune, Sofia, dan Siip.

“Mereka sengaja memproduksi dan memperdagangkan beras premium yang tidak sesuai dengan standar SNI 6128:2020,” ungkap Heldi, 8/8/25.

Praktik ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga menipu jutaan konsumen yang mempercayai label “premium” pada produk tersebut. Sebagai barang bukti, polisi telah menyita 13.740 karung beras oplosan. Jumlah ini ibarat puncak gunung es dari kejahatan yang lebih besar.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik etalase produk-produk yang terlihat bersih, bisa jadi tersembunyi praktik-praktik kotor yang merugikan kita semua.

Penegakan hukum yang tegas diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menjamin bahwa beras yang sampai di meja makan kita adalah beras yang benar-benar layak konsumsi. [Red]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sengketa Lahan hingga Rumput Sintetis, Proyek Rp9,2 M Dispora Kota Tangerang Dilapor ke Kejati

25 September 2026 - 15:12 WIB

Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, Bappisus dan Menteri Imipas Lakukan Sidak

25 September 2026 - 15:10 WIB

Sempat Divonis Bebas, Buron Kasus Penipuan Akhirnya Ditangkap Tim Tabur Kejati Banten di Tegal

24 September 2026 - 07:43 WIB

Hakim MK Saldi Isra Cecar KPU Soal Verifikasi Ijazah Gibran, Pertanyakan Prosedur Lapangan

24 September 2026 - 07:33 WIB

Terjaring OTT KPK, Bupati Bolaang Mongondow Utara Resmi Mengenakan Rompi Oranye

23 September 2026 - 07:05 WIB

Trending on Hukum