TANGERANG – Di balik angka statistik yang seringkali terasa dingin, ada denyut nadi kehidupan yang kini berdetak lebih optimis di sudut-sudut Kota Tangerang. Tahun 2025 menjadi saksi bisu bagaimana kota ini perlahan mulai “menyembuhkan diri” dari bayang-bayang pengangguran, membawa kabar baik yang lebih dari sekadar deretan digit di atas kertas.
Bukan sekadar angka, tapi tentang dapur yang kembali mengepul. Penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 5,88% mungkin terdengar teknis bagi sebagian orang. Namun, bagi ribuan keluarga di Tangerang, angka ini berarti lebih banyak ayah yang pulang dengan senyum, lebih banyak ibu yang tenang menatap masa depan, dan lebih banyak pemuda yang akhirnya mendapatkan kesempatan pertama mereka untuk mandiri.

Kebijakan kenaikan UMK 2026 menjadi Rp 5,39 juta (naik 6,5%) bukan sekadar penyesuaian ekonomi. Ini adalah bentuk apresiasi terhadap keringat para pekerja yang menjadi tulang punggung kota. Sebuah upaya nyata untuk memastikan bahwa peningkatan biaya hidup tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan di setiap akhir bulan.
‘Gampang Kerja’. Menjemput Bola ke Depan Pintu Rumah
Apa yang membuat langkah Pemkot Tangerang kali ini terasa berbeda?
Jawabannya ada pada pendekatan yang lebih memanusiakan warganya. Melalui program ‘Gampang Kerja’, pemerintah tidak lagi menunggu rakyat datang memohon, tapi justru menghampiri.
- Si Praja (Mobil Pelatihan): Sebuah inovasi yang membawa ilmu dan keahlian langsung ke lingkungan warga. Memberi harapan bagi 1.063 warga untuk memiliki “senjata” baru di dunia kerja tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
- Job Fair & OJT: Menciptakan jembatan antara harapan pencari kerja dan kebutuhan industri, memastikan ribuan orang tidak lagi berjalan tanpa arah dalam mencari nafkah.
Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin, memahami bahwa kesejahteraan adalah satu paket utuh. Melalui filosofi 3G (Gampang Kerja, Gampang Sekolah, Gampang Sembako), pemerintah sedang berupaya membangun ekosistem di mana warganya bisa hidup dengan martabat.
“Tujuan kami sederhana: membuat masyarakat bisa mandiri. Saat sekolah mudah diakses, perut terisi dengan harga terjangkau, dan pekerjaan tersedia, di sanalah kualitas hidup yang sesungguhnya tercipta,” tutur Sachrudin, pesannya menyiratkan komitmen mendalam.
Sebuah awal, bukan akhir. Perjalanan menuju kota yang sejahtera memang masih panjang, namun langkah-langkah humanis ini menunjukkan bahwa arah yang diambil sudah tepat. Tangerang kini bukan sekadar kota industri yang sibuk, tapi sebuah rumah yang peduli pada nasib setiap penghuninya. Jumat, 13-Febuari-2026. ( Red )














