JAKARTA – Kondisi Keuangan: PT PLN (Persero) mencatatkan kerugian sebesar Rp3,88 triliun pada Semester I 2026. Kerugian ini terjadi di tengah kenaikan pendapatan perusahaan.. Faktor pemicu utama, lonjakan biaya bahan bakar hingga Rp23,37 triliun serta pembengkakan kerugian selisih kurs dari Rp8,7 triliun menjadi Rp18,5 triliun.
Anggota Komisi VI DPR RI menuntut transparansi penuh dari jajaran direksi serta evaluasi strategi efisiensi di tengah tren pendapatan perusahaan yang mengalami peningkatan, PLN justru melaporkan angka merah dengan kerugian mencapai Rp3,88 triliun pada semester pertama tahun 2026.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Darmadi Durianto, mempertanyakan kontradiksi finansial ini. Menurutnya, publik dan DPR berhak mengetahui ke mana sebenarnya keuntungan PLN terserap di tengah kenaikan pendapatan tersebut.
Berdasarkan penelusuran terhadap data finansial yang disorot dalam rapat, terdapat dua komponen utama yang menekan keuangan PLN secara signifikan. Beban biaya bahan bakar melonjak tinggi hingga Rp23,37 triliun, yang menggerus marjin keuntungan operasional perusahaan secara drastis.
Kerugian selisih kurs terjadi lonjakan beban kurs yang hampir dua kali lipat, yakni dari Rp8,7 triliun melonjak tajam menjadi Rp18,5 triliun. Melihat kondisi ini, Darmadi mendesak jajaran direksi PLN untuk membuka rincian kerugian dan biaya pembangkitan secara transparan kepada publik.
Selain itu, manajemen PLN juga didorong untuk segera merumuskan langkah mitigasi yang konkret, termasuk: Mengamankan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) menghadapi proyeksi tahun 2027. Menyusun strategi efisiensi operasional yang komprehensif agar kesehatan finansial perusahaan pelat merah ini dapat segera dipulihkan.
“Persoalan ini tidak cukup hanya dijelaskan melalui angka kerugian di atas kertas, tetapi harus disertai evaluasi menyeluruh dan strategi efisiensi yang terukur agar kondisi keuangan PLN dapat diperbaiki,” ungkap Darmadi Durianto (Komisi VI DPR RI).
Namun hingga berita ini diterbitkan Senin 26 Oktober 2026, Belum ada komentar yang disampaikan oleh jajaran PLN baik direktur maupun lainnya. (**)














