Menu

Dark Mode
Tangis Haru Nadiem Makarim di Sidang Pleidoi Kasus Chromebook, Pilih Pakai Jaket Gojek ketimbang Rompi Tahanan

Nasional

Proyek Raksasa di Ruang Gelap: Menyoal Rapat Perdana Anggaran Badan Gizi Nasional yang Digelar Tertutup


					Proyek Raksasa di Ruang Gelap: Menyoal Rapat Perdana Anggaran Badan Gizi Nasional yang Digelar Tertutup Perbesar

JAKARTA – Transparansi publik kembali mendapat ujian berat. Komisi IX DPR RI memicu kontroversi setelah menggelar rapat perdana bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S Deyang, secara mendadak dan tertutup dari awak media. Rapat yang berlangsung pada Senin (15/6/2026) tersebut agenda utamanya adalah membahas alokasi anggaran proyek krusial yang menyangkut hajat hidup generasi masa depan Indonesia. Namun, keputusan untuk mengunci pintu ruang rapat justru memicu tanda tanya besar: Ada apa dengan anggaran BGN?

Badan Gizi Nasional (BGN) dibentuk dengan mandat besar: mengelola program gizi skala nasional dengan anggaran fantastis yang bersumber dari uang rakyat. Seharusnya, rapat perdana mengenai perencanaan anggaran menjadi panggung bagi DPR dan BGN untuk menunjukkan akuntabilitas dan komitmen tata kelola yang bersih sejak hari pertama. Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai langkah menggelar rapat secara tertutup ini sebagai preseden buruk.

“Program pemenuhan gizi adalah isu sosial-ekonomi yang sangat sensitif. Jika pembicaraan anggarannya saja sudah dilakukan di ruang gelap, bagaimana publik bisa percaya bahwa proyek ini bebas dari kongkalikong dan potensi pemborosan?” ujar Irwansyah, S.H., Aktivis juga seorang praktisi Hukum ini..

Mengapa harus sembunyi-sembunyi? Ada catatan kritis yang patut dipertanyakan. Alasan mendadak dan tertutupnya rapat ini mengaburkan hak masyarakat untuk mengetahui pos-pos anggaran mana saja yang akan diprioritaskan.

“Dengan maraknya sorotan terhadap program gizi nasional belakangan ini termasuk isu efisiensi titik dapur program pembahasan yang tidak dapat diakses publik rawan memicu persepsi adanya “bagi-bagi kue” proyek di internal legislatif dan eksekutif,” sambungnya.

Lanjut kata Irwansyah, DPR RI yang seharusnya bertindak sebagai mata dan telinga rakyat dalam mengawasi jalannya pemerintahan justru terlihat ikut andil dalam membatasi akses informasi. “Jangan Biarkan Gizi Anak Bangsa Jadi Komoditas Politik
Publik mendesak Komisi IX DPR RI dan Badan Gizi Nasional memberikan klarifikasi terbuka mengenai hasil rapat tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, uang negara yang digelontorkan untuk program gizi bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pertaruhan bagi masa depan kesehatan anak-anak Indonesia. “Jika sejak awal pembahasan anggaran sudah dibentengi oleh ketertutupan, maka wajar jika masyarakat menaruh curiga bahwa proyek ini lebih berpihak pada kepentingan elit ketimbang pemenuhan gizi rakyat yang sesungguhnya,” tutup Irwansyah. (*)

Editor : Enjelina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Catut DPMPD dan Inspektorat, Klaim Sepihak Kades Jamaludin Dinilai Tabrak UU KIP

16 June 2026 - 09:05 WIB

Hashim Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tetap Berlanjut, Guna Berantas Stunting dan Kelaparan

14 June 2026 - 08:31 WIB

SONY SONJAYA AJUKAN DIRI JADI JUSTICE COLLABORATOR: Terkuak Puluhan Nama di Balik Pusaran Proyek MBG

11 June 2026 - 18:28 WIB

Kasus Korupsi MBG: Kejagung Hitung Kerugian Negara, Angka Berpotensi Fantastis!

7 June 2026 - 13:18 WIB

Menepis ‘Pesta Babi’ dengan ‘Pesta Panen’: Amran Sulaiman Pasang Badan untuk Proyek Sejuta Hektare Merauke

6 June 2026 - 10:32 WIB

Trending on Nasional