Peluang Raksasa Ekonomi Hijau: Danantara Bidik Potensi Pasar Motor Listrik Indonesia Hingga USD 170 Miliar
JAKARTA — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) terus memetakan peluang strategis dalam mengakselerasi transformasi ekonomi nasional berbasis energi bersih. Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa potensi pasar kendaraan listrik, khususnya motor listrik di Indonesia, memiliki prospek yang sangat masif dan memegang peranan krusial bagi masa depan industri otomotif tanah air.

Dalam keterangannya pada Kamis (18/3), Rosan menegaskan bahwa nilai pasar (market value) untuk sektor kendaraan roda dua berbasis baterai di Indonesia diproyeksikan dapat menembus angka fantastis hingga USD 170 miliar (sekitar Rp2.600 triliun lebih).
Populasi kendaraan roda dua di Indonesia yang sangat besar menjadi fondasi kuat transisi dari mesin berbasis bahan bakar minyak (BBM) menuju ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Sebagai sovereign wealth fund / badan pengelola investasi strategis Indonesia, proyeksi nilai pasar sebesar USD 170 miliar ini menunjukkan komitmen untuk mendorong masuknya investasi hijau skala global dan memperkuat industri manufaktur dalam negeri.
Pencapaian potensi bernilai ratusan miliar dolar tersebut mensyaratkan percepatan pembangunan infrastruktur penunjang, seperti penyediaan stasiun penukaran/pengisian baterai (SPBKLU/SPKLU), kepastian regulasi, serta peningkatan ketersediaan rantai pasok komponen lokal (TKDN).
Akselerasi Transisi Energi dan Investasi Nasional
Langkah Danantara dalam menyoroti sektor motor listrik memicu optimisme baru bagi dunia usaha dan investor global. Dengan integrasi hilirisasi nikel serta penguatan rantai pasok baterai dari hulu ke hilir, Indonesia dinilai berada pada posisi tawar yang sangat kuat untuk memimpin pasar ekosistem EV di kawasan Asia Tenggara.
“Potensi pasar motor listrik di Indonesia masih sangat besar. Nilai pasarnya diperkirakan mampu mencapai USD 170 miliar.” Rosan Roeslani, CEO Danantara.
Pemerintah bersama Danantara diharapkan dapat terus menyelaraskan kebijakan insentif serta kemudahan investasi agar target hilirisasi industri hijau dan reduksi emisi karbon nasional dapat tercapai secara optimal dan tepat sasaran. (*)













