
BANDUNG– Api kemarahan Serpina Lumban Toruan membakar ruang publik. Dengan suara yang menggelegar dan sorot mata penuh perlawanan, ia menghantam balik penafsiran biadab atas namanya yang kini beredar liar di jagat maya. Serpina menegaskan statusnya sebagai manusia seutuhnya, menolak mentah-mentah segala perbandingan keji yang merobek martabatnya.

“Saya, Serpina Lumban Toruan, adalah MANUSIA SEJATI! Bukan ‘sapi betina’ seperti yang mungkin diartikan oleh otak-otak kotor itu! Dan lebih jauh lagi, saya bukan ‘manusia gaib’ atau sebutan tak masuk akal lainnya yang mencoba menjadikan saya hantu!” teriak Serpina kepada wartawan, kalimatnya menusuk tajam, tak menyisakan ruang keraguan.
Ia menjelaskan, ‘Lumban Toruan’ adalah nama marga, identitas suci yang dihormati dalam tradisi kami, bukan lelucon yang bisa disamakan dengan hewan ternak atau makhluk tak berwujud.
“Nama keluarga saya adalah WARISAN, dan saya adalah manusia biasa, sama seperti Anda semua,” tambahnya, menegaskan kembali hakikat keberadaannya.
Tak ada ampun.
Serpina Lumban Toruan menyatakan sedang mengkaji dan mempertimbangkan langkah hukum paling keras atas tuduhan dan penyamarataan dirinya dengan hewan atau penyebutan “manusia gaib.” Ia akan melaporkan aksi keji ini dengan tuduhan penghinaan berat dan pencemaran nama baik yang tak termaafkan.
“Saya akan habisi di jalur hukum mereka yang berani merendahkan harkat dan martabat saya sebagai manusia. Penyamarataan dengan hewan atau disebut manusia gaib adalah bentuk penghinaan TERENDAH yang tak akan pernah bisa saya terima!” ancam Serpina, tekadnya membaja.
Pernyataan yang meledak-ledak ini muncul di tengah panasnya proses hukum terkait dugaan pelecehan seksual santriwati di Kabupaten Bandung, di mana nama Serpina Lumban Toruan mungkin terseret dalam intrik pemberitaan. Namun, fokus utamanya adalah perlawanan sengit terhadap dehumanisasi dan pencemaran nama baik yang biadab ini.
Serpina menuntut media massa dan publik untuk BERTANGGUNG JAWAB PENUH dalam menafsirkan dan menyebarluaskan informasi, terutama yang menyangkut identitas dan martabat seseorang. Ia menegaskan kembali komitmennya untuk MEMBURU KEADILAN atas perlakuan tidak pantas ini, sebuah pengingat bahwa martabat manusia bukalah sandiwara yang bisa dipermainkan begitu saja.














