JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menggelar konferensi pers resmi untuk menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) terkait evaluasi perekonomian nasional, stabilitas nilai tukar Rupiah, serta penetapan suku bunga acuan (BI-Rate).
Dalam keterangan resminya, 22 Juli 2026 Gubernur Bank Indonesia bersama jajaran Dewan Gubernur memaparkan indikator utama perekonomian serta langkah-langkah strategis yang diambil guna menjaga stabilitas moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

“Kebijakan penetapan suku bunga acuan diarahkan untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari tekanan eksternal.
Selain itu dijelaskan, Bank Indonesia terus memperkuat strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah melalui intervensi di pasar uang (triple intervention) dan optimalisasi instrumen moneter pro-pasar.
Perry Warjiyo Gubernur BI optimistis prospek pertumbuhan ekonomi domestik tetap solid, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi, sembari memantau ketat dinamika geopolitik serta ketidakpastian pasar keuangan global.
“Kebijakan moneter tetap difokuskan pada stabilitas (pro-stability), sementara kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, dan pendalaman pasar uang terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi (pro-growth),” ujar Perry Warjiyo
Langkah Strategis dan Sinergi
Selain kebijakan moneter, BI menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter bank sentral. Komitmen ini diwujudkan melalui penguatan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga daya tahan sektor keuangan nasional dari efek gejolak global.
Langkah digitalisasi sistem pembayaran nasional, seperti perluasan digitalisasi QRIS dan penguatan infrastruktur pembayaran antarnegara, juga terus dipercepat guna mendukung efisiensi transaksi masyarakat dan pelaku UMKM. (*)














